Aside
GADIS BERNAMA SAFIRA
Cerpen Karya Reza Patrick Orlando
 
Sayup angin malam yang simpang siur mampir dibalik jendela berkusen jati coklat sambil menggores sedikit candanya di sela-sela kaca yang masih terlihat bening. Saya tidak tahu, apakah saya akan terlelap dalam mimpi atau tetap melamun diatas kursi goyang tua sambil menatap pohon diluar jendela yang menitikkan daunnya perlahan. Mungkin saya lebih memilih untuk tetap begitu. Ya, menanti fajar datang adalah suatu harapan bagi saya, pekerjaan saya yang sama amat pentingnya selain mengamati suatu objek dalam celah kecil yang bersenjatakan bidikan dan buram tidaknya sesuatu dari apa yang saya lihat. Saya seorang fotografer, atau saya lebih suka menyebutnya pekerjaan ‘pencuri kenangan’. Saya pernah melihat apa saja di balik celah kecil berlapis lensa itu. Sekumpulan orang-orang yang terlibat dalam hiruk pikuk dunia, lapisan biru dan putih yang menjulang lebar ke angkasa, atau mungkin hanya sebatas air mata langit saat awan mulai menggelapkan dirinya.
“apa yang kamu bidik, tuan ?” sapa seorang gadis berseragam putih abu-abu mengagetkan saya. Saya berfikir malas untuk menjawabnya. “ Tidak lihatkah dia saya sedang memotret ?” gerutu saya dalam hati.
“apa yang kamu bidik, tuan ?” Tanya gadis itu sekali lagi. Kali ini lebih keras. Hati saya makin kesal dibuatnya. Dia menanyakan pertanyaan yang sudah pasti hingga dua kali. Mungkin saya harus menjawabnya, agar dia cepat pergi dan tidak mengganggu lagi.
“memotret” saya sengaja menjawab singkat dengan acuh, agar dia berfikir, bukan, dia harus berfikir kehadirannya mengganggu saya dan saya ingin dia pergi.
 
Gadis Bernama Safira – Cerpen Cinta
Dia tertawa, sambil tersenyum dia kembali tertawa. Saya mulai berpikir dia gila. Ada seorang siswi dari sebuah sekolah yang mengalami gangguan jiwa dan sekarang mengganggu saya. Saya berfikir untuk lari dan meninggalkan gadis itu, bisa gawat bila ada yang melihat saya berbicara dengan orang gila. Tiba-tiba gadis itu membalikkan badan, dan langsung berlari kecil pergi meninggalkan saya. Sesaat sebelum ia pergi, saya sempat mendengarkan walau lirih diantara senyumnya, dia menyebut sesuatu di bibir mungilnya. “Safira”.
***

Saya masih memutar-mutar fokus lensa di kamera DSLR saya di sebuah taman kecil yang terdapat gubuk di pinggir taman, disebelahnya terdapat sebuah pohon yang sangat lebat daunnya. Kali ini cuaca sangat mendung dan saya tidak tahu harus berbuat apa karena payung yang saya tinggalkan dirumah. Sementara saya berkosentrasi dengan gambar yang saya intip dibalik celah kazzaecil pada kamera itu, gadis berseragam putih abu-abu kemarin tiba-tiba berlari menuju saya. Disusul titik air langit yang berubah menjadi hujaman panah air dan sambaran kilat yang menyala-nyala seketika itu juga. Saya sempat memotret gadis itu sebelum dia benar-benar datang dan sebelum air menetes di kamera kesayangan saya ini.

Gadis itu berlari sangat cepat, dia sudah ada di samping saya sekarang. Saya masih sibuk memasukkan benda berlensa itu kedalam tas hitam kecil bertuliskan ‘CANON’ di sisi luarnya. Gadis itu kini terlihat lebih diam, tidak seaneh waktu saat pertama bertemu dengannya, di tempat yang sama. Saya tidak sempat memperhatikan wajahnya kemarin, saya baru sadar dia memliki rambut dibawah bahu dengan warna coklat gelap. Dia juga memiliki bola mata yang bulat berwarna hitam pekat. Saya terus memperhatikannya tanpa sadar. Padahal dia adalah seorang gadis aneh yang suka sekali tertawa kemarin, tapi kali ini hujan membuatnya beda, sangat berbeda.
“kau juga suka memotret hujan, tuan ?”
“ya, tentu. Siapa yang tidak suka hujan”
“lalu kenapa kau tidak keluarkan kameramu sekarang?” lagi-lagi dia bertanya sesuatu yang sudah sangat pasti untuk dijawab. Jelas saja, bila saya keluarkan kamera itu sekarang, air bisa masuk ke sela-sela kamera dan bisa membuatnya rusak, entah apa yang dipikirkannya.
“aku menunggu hujan reda”
“kau bilang kau suka hujan”

Bodoh, saya terjebak dengan pertanyaannya, gadis berseragam putih abu-abu itu memegang kendali sekarang. Ingin saya menjawabnya, tapi percuma saja, malah nanti saya yang terlihat bodoh menanggapinya. Hujan sudah mulai usai, dia merapikan rambutnya dan sudah bersiap untuk pergi. Kali ini dia tersenyum, sambil meletakkan tangannya diudara untuk sedikit bermain dengan tetesan yang jatuh dari atas gubuk.
“hujan sudah reda, kau tidak memotret, tuan ?”
“berhenti memanggilku tuan, aku bukan tuanmu”
“mungkin, aku hanya tidak tau cara memanggilmu”
“Leo”
“kau sudah dengar namaku kemarin, Leo” ucapnya sambil keluar dari bawah gubuk. Dia langsung melangkahkan rok abu-abu itu ke balik tikungan di ujung taman. Dia sudah pergi sekarang, menyisakan nama untuk dibawa pulang bersamanya. Saya keluarkan kamera itu lagi, mencari-cari gadis yang saya tangkap didalamnya, dan menemukan satu gambar yang persis dengannya.

Sejak kejadian itu, gadis itu sering datang ke taman kecil tempat dimana saya sering mencari objek untuk dicuri setiap kenangannya lewat alat khusus yang orang-orang sebut ‘kamera’. Entahlah, mungkin sebelum bertemu saya, gadis itu juga sudah sering berkunjung ke taman ini, lagipula ini taman umum, semua orang bisa menginjakkan kakinya kapanpun mereka mau, walaupun setiap hari yang saya temukan adalah kesunyian di taman ini. Kadang dia datang saat senja mulai turun, saya juga sering sengaja menghabiskan waktu untuk menunggunya datang dan memperlihatkan hasil-hasil tangkapan gambar saya di hari itu. Dia sering tersenyum, bahkan tertawa. Dia juga sangat senang berkhayal, berkhayal apa saja. Dia banyak bercerita tentang makhluk bernama “warewolf” dan bermimpi akan ada “warewolf” miliknya sendiri untuk menjaganya. Dia juga suka bercerita tentang bintang dan langit malam. Sempat kami bertemu di malam hari, atau mungkin, tengah malam. Saat itu kami melihat angkasa yang ditaburi bintang-bintang sunyi tanpa berkata apa-apa. Bintang itu tidak banyak berkomentar mengapa langit malam yang ditemaninya selalu kelihatan gelap dan murung. Saya menikmati setiap waktu bersamanya, kadang bercanda ketika dia menceritakan semua khayalannya. Begitu juga dia, tidak ragu untuk tertawa atau kadang tersenyum kecil saat saya menggodanya dengan kenangan-kenangan yang sudah ‘dicuri’ lewat kamera saya.
“apakah malam akan selalu gelap dan selalu begitu?” ungkap gadis itu pelan.
“hm, entahlah. Bukankah cahaya-cahaya bintang dan bulan terlihat begitu terang disana ?”
“siapa yang tahu kapan bintang dan bulan pergi”
“aku bertaruh mereka tidak akan pergi”
Malam itu terasa sangat dingin, rasanya angin merasuki darah dan menusuk tulang. Saat itu saya hanya melihat mata gadis itu berpantul cahaya bulan, disusul senyum tipisnya yang manis. Entah dari kapan saya memperhatikannya, tapi sekarang saya tahu, saya memperhatikannya. Dibalik malam yang sunyi itu, hanya saya dan gadis itu. Menghabiskan waktu dengan bercanda sambil sesekali terdiam mendengar alam yang berbisik. Atau bahkan berkhayal akan sesuatu yang terjadi, entah dimanapun itu, membuat malam itu terasa semakin lengkap bersama paduan jangkrik yang berkumandang dibalik kumpulan semak.

Malam berikutnya, gadis itu tidak datang. Seperti malam berikutnya, berikutnya, sampai selanjutya. Dia tidak datang lagi, walau saya menunggu di taman itu seharian. Saya tidak tahu harus mencari kemana, saya hanya mengenal dia dengan sebuah nama, Safira. Saya tidak tahu kehidupannya, bahkan selepas sekian pembicaraan kami, dia, ataupun saya tidak pernah menyinggung tentang kehidupan pribadi masing-masing. Saya selalu menunggu dia. Barangkali bila saya sabar sedikit lagi, dia pasti akan kembali dan menceritakan semua khayalannya lagi dengan senyum yang terhias di wajahnya. Tapi dia tidak datang. Tidak peduli saya menunggu berapa lama, dia tidak pernah datang lagi.
Satu gelas teh hangat sudah habis tadi malam, saya masih sedikit terngantuk-ngantuk setelah melewati mimpi fajar diatas kursi goyang tua itu. Rasanya pinggang saya sakit, mungkin karena saya lebih sering duduk daripada bergerak. Di usia saya sekarang, mungkin itu wajar, tapi sungguh, ini sangat merepotkan dan melelahkan. Saya perhatikan pohon diluar jendela saya, daunnya masih tetap rimbun. Walau sudah banyak yang gugur. Saya melihatnya buram, penglihatan saya sudah agak kabur. Kacamata bercorak emas di gagangnya saya kenakan, membuat semua dibalik lensa persegi empat itu terlihat jelas. Ya, daun di pohon itu masih tetap rimbun, walau sudah banyak yang jatuh. Sampai sekarang saya masih ingat, ini adalah pohon disamping gubuk kecil waktu itu. Masih tetap rimbun walau ukurannya sudah lebih besar. Saya menatap pohon itu dengan haru. Teringat saya dengan gadis itu. Gadis yang selalu berkhayal dan bercerita tentang semua yang dipikirkannya tanpa ragu. Gadis yang matanya bersinar saat melihat banyak bintang di langit malam. Saya menitikkan air mata untuk mengenangnya, bersama rumah yang saya bangun tepat setelah taman itu terbengkalai dan dibangun ulang. Saya bersikeras untuk tidak menebang pohon yang daunnya selalu rimbun itu. Para warga mengabulkannya. Akhirnya tinggalah saya disitu, rumah disamping pohon kecil berdaun rimbun.
Mata saya masih terbungkus kacamata yang menempel di sela-sela daun telinga saya. Pandangan saya tetap lurus kedepan mengikuti gerak daun-daun yang berjatuhan. Tiba-tiba seorang wanita datang di luar pagar halaman saya. Dia memperhatikan pohon itu sejenak. Dia memperhatikan pohon itu lama sekali, sampai sesekali tersenyum sendiri. Saya merasa pernah melihatnya, mata dan senyumnya yang khas itu, walaupun sudah dikerumuni garis-garis wajah akibat faktor usia. Dia melihat saya dari luar rumah, lewat jendela bening yang selalu saya bersihkan agar bisa melihat keluar dengan jelas. Matanya masih memandang saya. Begitu pula saya, saya telusuri setiap wajah dalam khayalan yang sering sekali terjadi saat saya tidur. Saya tersenyum, mengambil kamera dalam tas kecil disamping kursi goyang tua itu. Saya hidupkan mesin itu, saya bidikkan dan saya atur fokusnya untuk lebih memperjelas wajah itu, wajah dibalik jendela dan pohon berdaun rimbun.

Jari sudah saya tekan, bayangan dari apa yang saya lihat sudah tersimpan di mesin ‘pencuri kenangan’ itu. Saya melihatnya sekali lagi. Kali ini dia tersenyum lewat matanya yang berkaca-kaca. Saya tidak tahu apa yang dia maksudkan. Lama-kelamaan tangan saya semakin berat, sakit di kepala saya kembali lagi. Tangan saya sudah tak kuasa menahan beban kamera, sehingga terjatuh ke atas ubin coklat disusul oleh gelas dan obat-obatan saya yang sekarang berserakan. Saya tidak bisa bangun dari kursi tua itu, badan saya terasa kaku dan tidak mau bergerak. Saya mencoba menutup mata, melihat semua kemungkinan yang sudah terjadi selama ini. Kali ini saya benar-benar menutup mata tanpa takut bangun. Melihat isi mimpi-mimpi bersama gadis khayalan itu, diatas kursi goyang tua sambil tersenyum.
“Safira, apa kabarmu ? aku sudah lama lho menunggumu”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s